Selasa, 16 Juli 2013


Sang Murabbi, KH Rahmat Abdullah

hasanalbanna
Rahmat Abdullah, yang seringkali dipanggil Bang Mamak oleh warga Kampung Kuningan ini, meskipun lahir dari pasangan asli Betawi, namun ia selalu menghindari sebutan Betawi yang dianggapnya berbau kolonial Belanda. Ia lebih bangga dengan menyebut Jayakarta, karena baginya itulah nama yang diberikan Pangeran Fatahillah kepada tanah kelahirannya. Sebuah sikap yang tak lain lahir dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme, serta kebanggaan (izzah) terhadap warisan perjuangan Islam.
Pada usia 11 tahun, Rahmat kecil harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim. Sang ayah hanya mewariskan pada dirinya usaha percetakan-sablon, yang ia kelola bersama sang kakak dan adik untuk menutupi segala biaya dan beban hidup yang mesti ditanggungnya.
Meskipun begitu, Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Walaupun harus ikut membanting tulang mengais rezeki, ia tetap tak mau tertinggal dalam pendidikan. Awal pendidikan resminya ia mulai sejak masuk sekolah dasar negeri di bilangan Kuningan, yang kala itu masih berupa perkampungan Betawi, belum berdiri gedung-gedung pencakar langit. Dan seperti umumnya generasi saat itu, Rahmat kecil setiap pagi mengaji (belajar membaca Al Quran, baca tulis Arab, kajian aqidah, akhlaq & fiqh dengan metode baca kitab berbahasa Arab, nukil terjemah dan syarah ustadz) baru siang harinya dilanjutkan dengan sekolah dasar.
Tahun 1966, setelah lulus SD, yang tahun ajarannya diperpanjang setengah tahun karena terjadi peristiwa G-30-S/PKI, Rahmat masuk SMP. Tapi kali ini ia mesti keluar lagi karena terjadi dilema dalam dirinya. Ironi memang, di satu sisi keaktifan dirinya sebagai aktifis demonstran anggota KAPPI & KAMI yang dikenal sebagai angkatan 66, namun di hari Jum’at sekolahnya justru masuk pukul 11.30, tepat saat shalat Jum’at.
Karenanya pada permulaan tahun ajaran berikutnya (1967/1968) Rahmat memutuskan pindah ke Ma’had Assyafi’iyah, Bali Matraman. Dari hasil test dan interview, ia harus duduk di kelas II Madrasah Ibtidaiyah (tingkat SD). Namun Rahmat tidak puas dengan hasil itu, ia mencoba melakukan lobby dengan seorang ustadz, untuk melakukan test ulang hingga ia pindah duduk di kelas III.
Permulaan belajar di Ma’had ini, bagi Rahmat begitu berbekas. Apalagi ia harus ikut mengaji pada seorang ustadz senior Madrasah Tsanawiyah (Tingkat SMP) yang sangat streng dalam berbicara dan mengajar dengan bahasa Arab. Namun tak selang lama, ternyata sang guru kelas ini justru sama-sama mengaji bersamanya.
Rahmat memang langsung meloncat naik ke kelas V, di sinilah ia belajar ilmu nahwu dasar yang sangat ia sukai karena dengan ilmu itu terkuaklah setiap misteri intonasi dan narasi penyiar Shauth Indonesia, yang sering disiarkan oleh radio RRI dengan berbahasa Arab. Siaran inilah yang menjadi acara kesukaan Rahmat. Sehingga meski hidupnya serba kekurangan, namun karena sadar akan pentingnya komunikasi dan informasi, Rahmat merelakan uang makannya untuk dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil jerih payahnya mencari pelanggan sablon, untuk membeli radio. Padahal saat itu, radio masih menjadi status simbol bagi orang-orang kaya zaman itu.
Selepas kelas V, Rahmat melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Assyafi’iyah. Di MTs ini ia belajar ushul fiqh, musthalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan, di samping tetap belajar ilmu nahwu, sharf dan balaghah. Tapi pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan para masyaikh (kiai) serta bimbingan langsung sang orator pembangkit semangat yang selalu memberikan inspirasi Rahmat muda, KH Abdullah Syafi’i.
Di saat ini pula Rahmat merintis dakwah dengan mengajar di Ma’had Asyafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet Kuningan. Di tempat inilah Rahmat remaja mengabdikan dirinya sebagai guru, pendidik dan mengajarkan berbagai ilmu. Keseharian ini ia jalani bertahun-tahun dengan berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Bahkan untuk memberikan pelajaran tambahan berupa les privat pun ia lakukan dengan berjalan kaki masuk ke lorong-lorong jalanan Jakarta hingga larut malam.
Semangat hidup dan dakwah ini juga ia tuangkan dalam berbagai untaian bait-bait syair, puisi serta berbagai tulisan artikel kecil yang ia kirim ke berbagai media. Tak jarang ia juga berlatih bermain teater bersama rekan-rekan guru atau teman-teman seperjuangannya.
Dari jerih payah inilah, selain bisa membeli sebuah motor Honda 66 atau sering disebut motor Chips, Rahmat Abdullah mampu mengasah watak dan pikirannya sehingga menjadi murid terbaik dan murid kesayangan dari KH. Abdullah Syafi’i. Bahkan sempat pada tahun 1980, bersama empat rekannya mau diberangkatkan ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir, namun sayang gagal karena adanya ‘fitnah’ dari kalangan internal.
Namun hal itu tak menyurutkan Rahmat untuk selalu belajar. Sejak berkenalan dengan Syeikh Mesir yang pernah dikenalkan KH. Abdullah Syafi’i padanya, ia mulai senang melahap berbagai buku dan pemikiran Islam seperti Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Al Maududi serta tokoh nasional seperti HOS Cokroaminoto dan M. Natsir.
Sedang dari perjalanan dakwah bersama remaja-remaja Kuningan, menjadikannya sangat suka kala berdiskusi dan berguru dengan tokoh-tokoh M Natsir, Mohammad Roem ataupun Syafrudin Prawiranegara. Rahmat pun mengakui secara terus terang mengadopsi logika dan metode orasi yang ia ambil dari sang orator Isa Anshari dan Buya Hamka serta sang gurunya sendiri, Abdullah Syafi’i yang masyhur dengan teriakan lantang penggugah jiwa.
Rahmat remaja meski dikenal sebagai demonstran tapi sosoknya dikenal lembut, bahkan dianggapnya seringkali tidak bisa marah. Kemarahannya akan terlihat meledak jika Islam dilecehkan. Sebagaimana saat mendengar pembicaraan sang kakak, Rahmi, saat meminta kolega bisnisnya yang bekerja sebagai Kopasanda -Kopassus- untuk melunasi hutangnya. Tapi Kopassanda malah menjawab, “Nabi saja bisa meleset janjinya.” Kontan mendengar pernyataan itu Rahmat keluar dari ruangan samping dan langsung berucap, “Nabi yang mana janjinya tidak tepat,” Kopasanda itu malah menjawab, “Anda ndak usah ikut campur dengan urusan ini.” Rahmat remaja langsung menyambut, “Suara Bapak terdengar di telinga saya di sini, sekali pun bapak berpakaian dinas, nabi yang mana yang ingkar janji itu,” ujar Rahmat menahan emosi. Akhirnya Kopasanda itu minta maaf.
Sikap tegas ini lah yang menjadikan Rahmat Abdullah muda sangat disegani para pemabok ataupun preman. Karena caranya mendekati yang bersahabat. Bahkan, meski pernah kakaknya disakiti jagoan Kuningan waktu itu, H. Hamdani, ia tetap bisa menghadapinya dengan baik. Malah anak jagoan itu yang kemudian sempat ditahan polisi.
Anak-anak muda, preman, seniman semuanya ia rangkul terutama dalam wadah seni teater yang sering ia gelar di lapangan depan masjid Raudhtul Fallah —lapangan yang berada di belakang Dubes Malaysia saat ini-. Di tempat inilah Rahmat muda sering mengekspresikan syair dan puisinya serta peranan imajinasi dan pemikirannya sebagai sutradara teater dengan menggelar pagelaran teater drama terbuka. Teater yang terakhir kali ia pentaskan berjudul “Perang Yarmuk” yang tampil bersama Abdullah Hehamahua (1984). Dimana pementasannya sempat dikepung oleh intel dan aparat keamanan karena dianggap subversif di masa kekuasan Suharto.
Selepas pentas pun, tak ayal Rahmat dipanggil untuk menghadap KODIM. Namun Rahmat justru menjawab “Kalau yang memanggil Ibu, saya akan datang. Kalau yang memanggil KODIM sampai kapan pun saya tak akan pernah datang. Kalau mau saya datang ke KODIM, datang dulu ke ibu saya,” ungkap Rahmat muda menjawab aparat dari kodim yang melayangkan surat panggilannya. Bahkan salah satu aparat KODIM, Soeryat, sempat menangis di hadapan Rahmat muda karena nasehat-nasehatnya agar tidak saling ‘memberangus’ sesama Muslim.
Keasyikan menceburkan diri dalam dakwah, rupanya menjadikan Rahmat tak sadar telah dimakan usia. Rahmat baru tersadar ketika seorang teman yang baru menikah mengingatkan sudah waktunya memikirkan bangunan rumah tangga. Barulah ia menyadari usianya sudah memasuki tahun ke-32.
Malam itu, malam Kamis 14 Ramadhan 1405 H. (1984 M), bertiga; Rahmat, ibunda dan bibi datang mengkhitbah seorang anak yang pernah menjadi muridnya, Sumarni, tatkala Rahmat duduk di kelas II MTs. Saat itu Sumarni masih menjadi siswi kelas I Madrasah Ibtidaiyah (lk. Umur 5 tahun). Ia adalah sang nominator juara I untuk lomba praktik ibadah.
Saat berlangsungnya khitbah, ketika keluarga Rahmat mengajukan usulan walimah bulan Syawal seperti kebiasaan Rasululllah saw, seorang ustadz wakil dari perempuan mengatakan, “Itu tetap walimah, tetapi Anda tidak akan menemukan keberkahan seperti bulan (Ramadhan) ini.” Akhirnya, disepakati untuk nikah besok malamnya, malam Jum’at 15 Ramadhan. “Soal KUA urusan Ane, tinggal terima surat aje,” ujar ustadz tadi. “Bah, ini rada-rada ketemu,” ujar Rahmat muda dalam hati.
Walhasil sampai menjelang rombongan berangkat 15 Ramadhan itu, masih ada teman pemuda masjid yang bertanya, “Ini mau kemana sih?” Apalagi suasana saat itu memang masih represif. Bahkan belum sebulan menikah, di pagi buta ba’da subuh sesaat setelah peristiwa Tanjung Periok, Rahmat telah dijemput untuk mendengarkan rekaman peristiwa penembakan massa di Tanjung Priok yang terjadi semalam. Pagi itu lelaki yang sudah mulai akrab dipanggil Ustadz Rahmat itu, bersama pemuda Islam lainnya langsung meninjau lokasi yang porak poranda. Mendengar peristiwa itu pun, sang mertua justru mengusulkan untuk selalu membawa sang isteri untuk diajak juga keliling berbagai kota di Jawa. “Untuk penjajagan sikap ummat dan apa yang kerennya disebut ‘konsolidasi’lah,” ujar Ustadz Rahmat saat diwawancarai beberapa saat lalu.
Setelah menikah, ia tinggal di Kuningan, bersama Ibu dan Adiknya. Hingga lahir tiga orang anaknya, Shofwatul Fida (19), Thoriq Audah (17) dan Nusaibatul Hima (15).
Pada pertengahan tahun 80-an Rahmat muda bergabung dengan Harakah Islamiyah yang saat itu tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin dan beberapa tokoh pemuda Islam lainnya terus bersatu bergerak dalam dakwah yang lebih luas dan tertata. Gerakan dakwahnya ini lebih terinspirasi pada gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir yang sama-sama menjadi acuan kalangan muda saat itu
Pemikiran Hasan Al Banna yang telah lama menginspirasi dakwah pribadinya kini telah bertemu implementasinya bersama teman-teman yang merintis pendidikan dan kaderisasi dalam rangka penyadaran akan Islam dan mempertahankan kemurniannya. Di wadah baru inilah Rahmat selain berdiskusi, mengakses berbagai informasi tanpa melalaikan fungsi utama juga sebagai pendidik, penceramah, Rahmat merintis sebuah majalah Islam yang sangat disukai dan digemari kalangan muda. Namun sayang, saluran ekspresi pemikirannya itu harus dibredel di saat rezim orde baru mulai mengkhawatirkan kiprahnya. Namun pembredelan itu tak menyurutkan Rahmat untuk membuka lembaran baru berekspresi dalam dakwah.
Dan setelah 8 tahun menetap di Kuningan, ia mengontrak di Jl. Potlot I/ 29 RT 2 RW 3 Duren Tiga, Kalibata. Di sana lahir anaknya, Isda Ilaiha (13). Tapi panggilan dakwah sepertinya lebih memanggilnya. Tahun 1993 bersama murid-muridnya mencoba membangun pengembangan dunia pendidikan dan sosial dengan mendirikan Islamic Center Iqro’ yang terletak di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.
Di sini pula ia menetap dan memboyong keluarganya dari kontrakannya di Gang Potlot, Duren Tiga, Kalibata menuju tanah yang masih penuh rawa untuk berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik dan kontemporer. Di tempat terakhir ini merintis segala impian dan lahir anak-anaknya, Umaimatul Wafa (11), Majdi Hafizhurrahman (9), Hasnan Fakhrul Ahmadi(7).Di sini kesibukannya, semakin padat. Tetapi, kebiasaan pribadinya, untuk membaca, mengkaji Al Qur’an dan Tafsirnya, Hadits dan syarahnya tetap berjalan. Begitupun, kegiatannya mengisi pengajian di kantor, kampus, serta melayani berbagai macam konsultasi sejak lepas subuh hingga jam 08.00 pagi. Ditambah lagi kesibukan di Iqro’.
Bahkan, kegiatan rutin ini tetap ia jalani meskipun semenjak tahun 1999 ia diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan. Demikian juga saat beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera yang ia dirikan bersama teman-teman seperjuangan setelah lebih dari 10 tahun ia rintis.
Pada tahun 2004 sang aktivis demonstrasi, budayawan, filosof, guru dan pendidik yang disegani anak muda ini harus masuk ke gedung parlemen. Ustadz Rahmat terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan baru pada saat Ustadz Rahmat Abdullah mencalonkan diri inilah Bandung untuk pertama kalinya dimenangkan partai Islam.
Meskipun telah menjadi wakil rakyat, Ustadz Rahmat dikenal dikalangan Komisi III sebagai wakil rakyat yang tetap bersuara lantang, namun penuh santun dan filosofis sekaligus puitis dalam mengkritisi setiap kabijakan. Tak peduli menteri, presiden dan pejabat manapun ia sampaikan kritikan tajam membangunnya yang seringkali menjadi wacana baru bagi para pemimpin negeri ini.
Bahkan jabatan terakhir sebagai Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai Keadilan Sejahtera ia emban dengan penuh amanah dan luapan semangat hingga akhir hayatnya saat ia harus dijemput kematian sesaat setelah berwudhu hendak menunaikan penghambaan pada sang Khalik, Selasa (14/6).
Sebuah harapan yang mungkin telah engkau ungkapkan sepekan sebelum dirimu meninggal. Dimana tidak biasanya dirimu ditegur isterimu ketika membuka album-album kenanganmu. “Lihat nih, orang Betawi kini telah keliling dunia, ke Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Amerika juga Makkah. Tinggal ke akheratnya saja yang belum,” ujarmu berseloroh yang kini telah kau buktikan.
Demikian biografi singkat KH Rahmat Abdullah, semoga Allah melapangkan kuburnya, yang kami kutip dari warisansangmurabbi.com. Beberapa tulisan beliau bisa disimak di Hasanalbanna.com.

Redaktur: Shabra Syatila 

Aktivis Dakwah Kampus Moderat?


Photo © Přemysl Škaloud
Pernahkah kita merasa semakin hari semakin ada gradasi? Semakin luwes sikap kita terhadap hal yang dahulu dipegang erat oleh pendahulu kita. Mungkin kita mendefinisikannya sebagai moderasi, dan menganggap moderat menjadi tuntutan zaman. Apakah moderat seperti itu? Ibarat melepaskan simpul-simpul yang telah terikat kuat sebelumnya.
Dalam praktek aktivitas da’wah kampus, banyak aktivis yang mengklaim dirinya sebagai orang moderat dan tidak mau dicap ekstrem, alasannya supaya dakwah ini diikuti banyak orang. Moderasi itu bisa berupa dulu yang syuro’ atau tiap pertemuan pakai hijab sekarang tidak perlu, atau yang dulu ada jam malam hingga maghrib sekarang semakin dilarutkan, atau dulu yang foto akhwat tidak boleh dipajang sekarang boleh saja dipajang, atau dulu akhwat yang tidak boleh nyanyi sekarang boleh nyanyi dan contoh-contoh lainnya. Dengan alasan itu semua bukan hal yang tsawabit yang masih bisa ditolerir.
Tahukah kita bahwa moderat adalah karakter dari Islam itu sendiri? Sejak awal manhaj dalam Islam sudah moderat dan tidak perlu dimoderasi lagi. Dalam Kitab Kaifa nata’amalu ma’a as shunnah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Bagaimana Memahami Hadits Nabi SAW” disebutkan Islam memiliki tiga karakter, Syumul (Komprehensif), Washat (Moderat) dan Taisyir (Memudahkan).
Dalam pandangan saya tiga karakter ini bisa menjadi urutan kita dalam memahami Islam, awalnya kita harus memahami Islam secara komprehensif. Setelah benar-benar memahami Islam dan berbagai kaidahnya barulah kita bicara soal moderasi yang dibangun atas dasar pemahaman yang utuh, sehingga moderasi adalah manifestasi dari kebijaksanaan. Barulah kemudian Islam dapat menjadi manhaj yang memudahkan.
Kembali ke persoalan moderasi aktivis dakwah, apakah perlu ada moderasi padahal Islam sendiri sudah moderat? Dan apakah moderasi ini sudah diawali dengan kefahaman agama yang komprehensif? Ataukah hanya sekedar tidak ingin dicap ekstrem dan supaya banyak peminat?
Hal inilah yang perlu diwaspadai oleh aktivis dakwah, jangan sampai ada missing link antara pemahaman yang utuh dengan sikap moderat. Bukankah di pelatihan-pelatihan awal di Lembaga Dakwah Kampus diberikan materi tentang Syumuliyatul Islam? Materi itu diharapkan menjadi triggerbagi aktivis dakwah kampus untuk mengkaji Islam yang Syumul pun secara syumul, bukan hanya jadi wawasan bahwa Islam itu syumul.
Lantas apa bedanya kita dengan orientalis barat kalau Islam sekedar dijadikan wawasan, bukan dikaji untuk diamalkan. Asset At Taqwa, Mantan ketua JANUR XI UKMKI Unair pernah menekankan “Antum jangan bicara ‘moderat’ kalau belum benar-benar memahami Islam dengan baik”. Seseorang yang memahami Islam, akan bersikap moderat dalam konteks membangun titik temu, sebab ia telah menemukannya dalam pemahamannya yang utuh. Ibarat seseorang yang telah utuh memahami fiqh, ia akan semakin arif dalam bersikap dan tidak ekstrim pada salah satu mazhab.
Jadi, moderat dalam berislam tanpa pemahaman terhadap Islam yang baik adalah sebuah kebodohan, dan akan menjadi virus dalam tubuh dakwah, alih-alih moderat justru bisa jadi liberal. Mengkaji Islam secara komprehensif adalah sebuah keniscayaan bagi mereka yang mengklain dirinya aktivis dakwah kampus, sehingga dalam berargumen dan bertingkah laku ia berdasarkan pada dasar agama yang kuat, bukan berdasar tren apalagi asumsi.
Dan yang perlu dicatat, bahwa forum bernama mentoring atau halaqoh saja tidak cukup dijadikan bekal dalam berIslam, masih banyak perbendaharaan ilmu agama ini yang tersebar di banyak majelis, yang perlu aktivis dakwah serap sebanyak-banyaknya, hingga lahirlah kearifan dalam berIslam, bukan sekedar ikut-ikutan. Wallahu’alam bishshowab
Oleh: Ahmad Jilul Qur’ani Farid, Surabaya


Aktivis Dakwah Kampus Moderat?
May 2, 2013 12:42 pm | Dakwah KampusOpini
 
Aktivis Dakwah Kampus Moderat?
Photo © Přemysl Škaloud

Pernahkah kita merasa semakin hari semakin ada gradasi? Semakin luwes sikap kita terhadap hal yang dahulu dipegang erat oleh pendahulu kita. Mungkin kita mendefinisikannya sebagai moderasi, dan menganggap moderat menjadi tuntutan zaman. Apakah moderat seperti itu? Ibarat melepaskan simpul-simpul yang telah terikat kuat sebelumnya.
Dalam praktek aktivitas da’wah kampus, banyak aktivis yang mengklaim dirinya sebagai orang moderat dan tidak mau dicap ekstrem, alasannya supaya dakwah ini diikuti banyak orang. Moderasi itu bisa berupa dulu yang syuro’ atau tiap pertemuan pakai hijab sekarang tidak perlu, atau yang dulu ada jam malam hingga maghrib sekarang semakin dilarutkan, atau dulu yang foto akhwat tidak boleh dipajang sekarang boleh saja dipajang, atau dulu akhwat yang tidak boleh nyanyi sekarang boleh nyanyi dan contoh-contoh lainnya. Dengan alasan itu semua bukan hal yang tsawabit yang masih bisa ditolerir.
Tahukah kita bahwa moderat adalah karakter dari Islam itu sendiri? Sejak awal manhaj dalam Islam sudah moderat dan tidak perlu dimoderasi lagi. Dalam Kitab Kaifa nata’amalu ma’a as shunnah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Bagaimana Memahami Hadits Nabi SAW” disebutkan Islam memiliki tiga karakter, Syumul (Komprehensif), Washat (Moderat) dan Taisyir (Memudahkan).
Dalam pandangan saya tiga karakter ini bisa menjadi urutan kita dalam memahami Islam, awalnya kita harus memahami Islam secara komprehensif. Setelah benar-benar memahami Islam dan berbagai kaidahnya barulah kita bicara soal moderasi yang dibangun atas dasar pemahaman yang utuh, sehingga moderasi adalah manifestasi dari kebijaksanaan. Barulah kemudian Islam dapat menjadi manhaj yang memudahkan.
Kembali ke persoalan moderasi aktivis dakwah, apakah perlu ada moderasi padahal Islam sendiri sudah moderat? Dan apakah moderasi ini sudah diawali dengan kefahaman agama yang komprehensif? Ataukah hanya sekedar tidak ingin dicap ekstrem dan supaya banyak peminat?
Hal inilah yang perlu diwaspadai oleh aktivis dakwah, jangan sampai ada missing link antara pemahaman yang utuh dengan sikap moderat. Bukankah di pelatihan-pelatihan awal di Lembaga Dakwah Kampus diberikan materi tentang Syumuliyatul Islam? Materi itu diharapkan menjadi triggerbagi aktivis dakwah kampus untuk mengkaji Islam yang Syumul pun secara syumul, bukan hanya jadi wawasan bahwa Islam itu syumul.
Lantas apa bedanya kita dengan orientalis barat kalau Islam sekedar dijadikan wawasan, bukan dikaji untuk diamalkan. Asset At Taqwa, Mantan ketua JANUR XI UKMKI Unair pernah menekankan “Antum jangan bicara ‘moderat’ kalau belum benar-benar memahami Islam dengan baik”. Seseorang yang memahami Islam, akan bersikap moderat dalam konteks membangun titik temu, sebab ia telah menemukannya dalam pemahamannya yang utuh. Ibarat seseorang yang telah utuh memahami fiqh, ia akan semakin arif dalam bersikap dan tidak ekstrim pada salah satu mazhab.
Jadi, moderat dalam berislam tanpa pemahaman terhadap Islam yang baik adalah sebuah kebodohan, dan akan menjadi virus dalam tubuh dakwah, alih-alih moderat justru bisa jadi liberal. Mengkaji Islam secara komprehensif adalah sebuah keniscayaan bagi mereka yang mengklain dirinya aktivis dakwah kampus, sehingga dalam berargumen dan bertingkah laku ia berdasarkan pada dasar agama yang kuat, bukan berdasar tren apalagi asumsi.
Dan yang perlu dicatat, bahwa forum bernama mentoring atau halaqoh saja tidak cukup dijadikan bekal dalam berIslam, masih banyak perbendaharaan ilmu agama ini yang tersebar di banyak majelis, yang perlu aktivis dakwah serap sebanyak-banyaknya, hingga lahirlah kearifan dalam berIslam, bukan sekedar ikut-ikutan. Wallahu’alam bishshowab
Oleh: Ahmad Jilul Qur’ani Farid, Surabaya

Adnan Menderes: Sang Al Fatih Modern



June 4, 2013 7:26 am | Persona Adnan Menderes: Sang Al Fatih Modernburaistanbul.com
Ali Adnan Ertekin Menderes (lahir di Aydin tahun 1899 – meninggal di Imrali, 17 September 1961 pada umur 62 tahun) merupakan seorang negarawan Turki dan pimpinan pertama yang dipilih secara demokratis dalam sejarah Turki. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Turki antara tahun 1950–1960. Ia merupakan salah satu pendiri Partai Demokrat pada tahun 1946, partai oposisi resmi ke-4 di Turki.
Masyhur di kalangan masyarakat Turki tersebar kisah bahwa Adnan Menderes menaiki sebuah pesawat terbang. Saat di angkasa, salah satu mesin pesawat mati. Pilot pesawat sudah mengumumkan keadaan emergency. Menderes mengikrarkan diri, jika Tuhan menyelamatkan dirinya, ia berjanji untuk mengembalikan kejayaan Islam di Turki. Pesawat pun terbakar. Satu-satunya penumpang yang selamat, hanya dirinya. Allahu a’lam.
Dikenal sebagai orang yang pertama kali mengembalikan adzan ke dalam bahasa Arab, dimana sejak lama diubah oleh Kemal Attaturk ke bahasa Turki.
Tahun 1950 bergabung dengan Partai Demokrasi Turki dan menjadi calon dengan program kerja yang nyeleneh untuk ukuran saat itu. Dimana semua survey berbasis di Amerika, sudah menegaskan kegagalan program yang ditawarkan Menderes. Program kampanye Menderes adalah:
  1. Adzan dikembalikan ke dalam bahasa Arab.
  2. Ibadah haji bagi Muslim Turki diizinkan.
  3. Dibolehkan kembali pembukaan sekolah-sekolah keagamaan (Islam) dan pengajaran agama di sekolah-sekolah umum.
  4. Membatalkan UU yang melarang hijab bagi Muslimah.
Hasilnya sangat mencengangkan! Partai Attaruk turun 32 kursi. Sedang Partai Demokrasi Turki meraih 318 kursi. Adnan Menderes pun terpilih menjadi PM Turki, dengan presiden Celâl Bayar
Sejak dilantik menjadi PM, Menderes langsung memenuhi janji-janji kampanyenya. Pelantikan bertepatan dengan awal Ramadhan. Pada bulan Ramadhan itu pula, Menderes memberlakukan adzan dengan bahasa Arab, kebebasan berpakaian untuk muslimah, pengajaran di masjid-masjid, dan dibolehkan memakmurkan masjid.
Pada Pemilu 1954, partai Attatruk turun drastis tinggal 24 kursi. Saat itu, Menderes memberlakukan aturan yang membolehkan pengajaran Bahasa Arab, pengajaran Al-Qur’an di seluruh SMP, membangun 10.000 masjid dan 22 Ma’had Islam di Anatolia, dalam rangka akselerasi program para khatib, da’i, dan guru-guru Al-Qur’an. Ia pun membolehkan penerbitan buku-buku Islam, majalah-majalah, atau selebaran yang menyerukan agar kembali berpegang teguh dengan ajaran Islam. Lebih dari itu, ia mengaktifkan kembali masjid-masjid yang dijadikan gudang-gudang untuk kembali menjadi tempat ibadah dan membuka 25 madrasah Tahfizh Al-Qur’an.
Di tataran regional, Menderes mulai aktif menjalin hubungan dengan Dunia Arab melawan Israel. Tidak hanya itu, ia memberlakukan aturan ketat untuk setiap kargo yang masuk dari Israel, baik kargo obat-obatan atau barang yang Made in Israel. Malah ia pernah mengusir Dubes Israel di Turki tahun 1956.
Arus Islamisasi yang begitu deras, membuat kalangan anti Islam di Turki gerah. Dimotori para jenderal yang sejak Kemal Attatruk banyak menikmati kucuran dollar dari Israel, General Kemal Joe Russel menangkap dan menghukum gantung Menderes.
Sebab-sebab digantungnya Menderes ditulis oleh seorang wartawan bernama Sami Kohen, “Penyebab dihukum matinya Menderes adalah, kebijakan politiknya yang teramat dekat dengan dunia Islam, sebaliknya dingin dan kaku dengan Israel. Selain itu, kunjungan terakhirnya ke beberapa negara Teluk, yang kemudian dilanjutkan beribadah haji, menjadi sebab kemurkaan militer Turki.”
Ia pun syahid, insya Allah, di tali gantungan tahun 1960.
Banyak pejuang yang selalu mengatakan, “Tugas kita berjuang. Hasil urusan Allah.” Maka bisa dipastikan, perjuangan yang hanya berorientasi proses, akan mudah goyah, putus asa, jalan di tempat, dan membabi buta.
Setelah era runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki, 87 tahun lalu, pejuang-pejuang yang tidak berorientasi hasil mundur terlalu jauh ke belakang. Sibuk mencaci maki keadaan. Mengkafir-kafirkan saudara muslim yang tidak sejalan. Bangga dengan kumpulan manusia yang tak dikenalkan jihad, karena jihad ditiadakan. Kumpulan manusia yang tidak berpengelaman mengurus organisasi, karena yayasan dan lembaga kebajikan ditiadakan. Lalu output apa yang akan dilahirkan? Tidak ada, kecuali generasi pendengki, pencaci, pemaki, dan peratap keadaan dengan jampi-jampi melankolis, sambil menunggu mukjizat turun dari langit tanpa setetes darah yang dikorbankan.
Sedangkan seorang Adnan Menderes, hanya dalam 10 tahun perjuangannya, sekolah-sekolah Islam yang ia buka, lembaga-lembaga tahfizh yang ia gerakkan, masjid-masjid yang ia bangun, adzan yang ia kembalikan dengan bahasa Arab, ternyata sejak tahun 1996 bermunculan Necmettin Erbakan, hingga penghujung tahun 2006, benih-benih dakwah Menderes bermunculan seperti: Abdullah Gull, Recep Tayip Erdogan, dan generasi terbaik Turki saat ini.
Adnan Menderes bagi dunia Islam, tak terlalu banyak orang yang mendengar. Karena ia tak pandai menulis buku-buku, hingga tak ada yang menjulukinya Allamah Mujtahid Mutlaq Syaikh. Tapi pengorbanannya menjadi teladan bagi generasi muda Turki, sejajar dengan Imam Syahid Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Raja Faisal, yang tinta darahnya melegenda, tidak sekedar buku-buku kecil yang membingungkan generasi di kemudian hari. Tentu kita bisa memilah-memilih, mana pejuang Syariah sejati dan mana yang sekedar ilusi.
Wallahu A’lam.

Redaktur: Shabra Syatila 

Senin, 15 Juli 2013

Surat untuk Dr. Yasir Barhami dan partainya (Annour) Dari Syeikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq Alyusuf*



Kalian telah mengkhianati amanat melanggar janji dan memimpin/ mengambil bagian besar dalam penurunan Presiden yg telah kalian baiat, dan diridhoi oleh mayoritas umat Mesir. Kalian mendukung musuh-mush umat, dan menyobek undang-undang yang kamu adalah salah seorang penulisnya dan disetujui jumhur/kebanyakam umat Mesir.
Aku tidak melihat permisalan antara kalian dan presiden yang kalian khianati dan kalian copot kecuali seperti yang terjadi antara Utsman bin Affan RA dan orang-orang yg telah memberontak kepadanya.
Utsman bin Affan adalah khalifah pertama yang dipilih dengan referendum seluruh muslimin yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf RA, sampai beliau berkata setelah menanyai pendapat semua laki-laki dan perempuan di Madinah bahkan pemudi-pemudi belia: "Aku melihat kebanyakan orang tidak ada yg berpaling dari Utsman seorangpun".
Mursi adalah presiden terpilih pertama dalam sejarah Mesir dan sudah dibaiat oleh kebanyakan penduduk mesir dengan hati dan tangan mereka.. kalian dan partai kalian juga termasuk dari mereka.
Utsman RA adalah seorang Hafidz Quran, ahli puasa, ahli qiyam, dan kami mengira Mursi juga seperti itu.
Utsman.. para pemberontak menyuruhnya menyerah dan turun tetapi dia menolak dan menunggu kematian, dan dia telah bermimpi ketika sedang dikepung Rasulullah berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah telah memakaikanmu baju, maka bila mereka ingin kamu melepaskannya jangan turuti mereka".
Begitu juga Mursi, para pemberontak ingin dia turun sukarela dan melepaskan baju kepresidenan yg telah dipakaikan oleh rakyat Mesir, tetapi dia menolak permintaan para pemberontak.
Dan memang tidak sepatutnya dia turun sukarela karena bila dia melalukan hal itu tanpa merujuk kepada orang-orang yang telah membaiatinya maka dia telah mengkhianati mereka.
Sedang kalian.. tidak ada permisalan bagi kalian dalam sejarah kecuali dengan para pemberontak khawarij yg telah memberontak kepada Utsman RA tanpa menghiraukan perjanjian mereka dan kehormatan Utsman, dan mengikuti perintah Ibnu Saba.
Dan ketahuilah bahwa darah yg akan tertumpah dan kehormatan/ larangan yg akan dilangar disebabkan pelanggaran janji kalian dan pengkhianatan amanat kalian, akan menjadi tanggung jawab kalian, karena kaluan yg memimpin/ mengambil peran besar dalam hal ini, dan kalian telah berusaha untuk hal itu dengan terang2an atau sembunyi2.
Bila engkau berbangga bahwa engkau telah membuat roadmap (mesir), ketahuilah bahwa para pencuri kekuasaan yang telah menelikung keinginan rakyat tidak akan mungkin menjadi orang2 yang adil dan saksi bagi Allah meskipun atas diri mereka sendiri.
Dan kalian telah melakukan hal itu, supaya orang2 melepaskan baju Salafi (dr pandangan mereka) yang telah lama kalian pakai tanpa hak dan dgn kebohongan. Dan menjadikan kalian golongan orang2 yang membangkang kepada penguasan tanpa hak.
Dan ketahuilah bahwa kamu tidak akan menjadi pengganti Mursi meskipun mereka telah mengiming imingimu hal itu karena sesungguhnya Allah tidak merestui tipu daya orang orang yg berkhianat.
*Ditulis oleh: Abdurrahman Abdul Khaliq Alyusuf
(Beliau adalah ulama yg sangat dihormati salafy -red)
26 Syaban 1434
4 Juli 2013



Copyright @ 2013 LDF AL-Mizan.